Seandainya hidup saya ini diibaratkan seperti anak penyu yang baru saja menetas dari dalam pasir yang hangat, menetas tanpa mengenal siapa induknya, lalu dengan nuraninya anak-anak penyu yang malang itu berenang menuju riak-riak ombak yang diharapkan akan mengantarkan dia dikedalaman laut yang hangat, maka Kota Padang Panjang adalah riak ombak pertama saya setelah saya keluar dari timbunan pasir yang hangat itu.
Padang Panjang adalah kota yang membentuk saya menjadi anak remaja kampung rasa Minang Kabau, disana saya mengenal kata titih menitih, sahut menyahut, sambah menyambah, kato mandata, kato manurun, kato mandaki, bersilat lidah, menyayat tanpa melukai, mengiris tanpa putus, itulah Minang Kabau, yang sarat dengan bahasa isyarat halus dan kasarnya, saya yang tidak pernah mengenal bapak dan dunsanak kampung dan tidak begitu kental dengan adat Minang, maka di Padang Panjang segalanya berubah.
Padang Panjang sudah menjadi tempat belajar para pemuda Sumatera Barat sejak zaman nenek saya, mereka berasal dari berbagai daerah, ada yang dari Sumatera Barat, Medan, Aceh, Makassar, bahkan dari belahan timur nusantara, saya ingat ada salah seorang teman saya yang berasal dari Timor Timur sebelum negara itu memisahkan diri dari Indonesia.
Tiga tahun pertama saya di Padang Panjang tidak seorangpun orang yang lebih tua dari saya memanggil saya dengan kata "Waang", saya selalu dipanggil "Ananda" aduhai indah sekali, dengan segala keindahan dan kebaikan Kota itu, saya juga mengenalnya sebagai kota yang keras, terlebih ketika saya mengenal teman-teman yang lingkungan tempat tinggalnya di Pasar Raya Padang Panjang, parewa, tukang palak, tukang copet, tukang madat lem, saya juga mengenalnya dari kota ini.
Sekasar apapun kehidupan lain yang saya kenal dari kota itu, dia tetap memberikan saya keindahan lainnya, yakni anak-anak gadisnya yang lembut pemalu dan santun, meski tidak semuanya.
Alam Padang Panjang yang Indah membuat kota ini menjadi salah satu kota yang memang nyaman ditempati untuk tinggal, setiap pagi saya menghirup udara pegunungan yang sejuk dan segar, meskipun dengan menggunakan jaket yang tebal dan berbicara sambil menggigil, di kota ini jika pagi hari tidak melakukan pergerakan, maka kedinginan akan selalu menyelimuti.
Kota Pelajar
Kota dingin yang selalu saya rindukan, dan entah mengapa saya merasa diri saya selalu berasal dari kota itu padahal tidak satupun sanak saudara saya yang sekandung ada disitu, saya ingat pertama kali kaki saya menginjak tanah dingin Padang Panjang ketika pagi subuh buta, kabut tebal turun dari kaki gunung merapi, menghisap dada panas saya yang baru saja turun dari Bus antar kota antar dalam Porvinsi, seketika itu juga saya merasakan perasaan ganjil, kota ini adalah kota pelajar sejak zaman Zainuddin, Aziz dan Hayati masih dalam pikiran Buya Hamka.Padang Panjang sudah menjadi tempat belajar para pemuda Sumatera Barat sejak zaman nenek saya, mereka berasal dari berbagai daerah, ada yang dari Sumatera Barat, Medan, Aceh, Makassar, bahkan dari belahan timur nusantara, saya ingat ada salah seorang teman saya yang berasal dari Timor Timur sebelum negara itu memisahkan diri dari Indonesia.
Tiga tahun pertama saya di Padang Panjang tidak seorangpun orang yang lebih tua dari saya memanggil saya dengan kata "Waang", saya selalu dipanggil "Ananda" aduhai indah sekali, dengan segala keindahan dan kebaikan Kota itu, saya juga mengenalnya sebagai kota yang keras, terlebih ketika saya mengenal teman-teman yang lingkungan tempat tinggalnya di Pasar Raya Padang Panjang, parewa, tukang palak, tukang copet, tukang madat lem, saya juga mengenalnya dari kota ini.
Sekasar apapun kehidupan lain yang saya kenal dari kota itu, dia tetap memberikan saya keindahan lainnya, yakni anak-anak gadisnya yang lembut pemalu dan santun, meski tidak semuanya.
Penghasil Sayur Sumatera Barat
Gunung Merapi dan Singgalang, dua gunung yang berdiri kokoh seakan melindungi Padang Panjang dari berbagai pengaruh buruk kehidupan zaman, kedua gunung itu memberikan budaya yang kental kepada perkampungan yang ada di sekelilingnya, budidaya pertanian berkembang dengan pesat terutama tanaman hortikultura, humus tanahnya yang subur membuat Padang Panjang sebagai salah satu sumber penghasil sayur yang memenuhi kebutuhan Sumatera Barat secara khususnya.Alam Padang Panjang yang Indah membuat kota ini menjadi salah satu kota yang memang nyaman ditempati untuk tinggal, setiap pagi saya menghirup udara pegunungan yang sejuk dan segar, meskipun dengan menggunakan jaket yang tebal dan berbicara sambil menggigil, di kota ini jika pagi hari tidak melakukan pergerakan, maka kedinginan akan selalu menyelimuti.
Tempat-tempat yang selalu merindukan.
MTsN Gantiang Bukit Surungan Padang Panjang
Disinilah tempat yang paling banyak menyemai kenangan, sebagai "Anak penyu yang sedang berjuang menuju garis bibir pantai" sekolah ini menjadi segalanya bagi saya, disini saya mengenal kawan-kawan yang berasal dari berbagai daerah, saya mengenal karakter mereka, bentuk muka, logat bahasa, kebiasaan yang mereka bawa dari kampung, watak mereka, hampir semuanya saya pelajari disini, dengan beban pelajaran yang berat semenjak mulai dari pukul 07.00 WIB sampai waktu Ashar, saya pelan-pelan memahami semuanya dengan teliti.Rumah Makan Gumarang
Saya berharap ketika tulisan ini anda baca rumah makan Gumarang masih ada, jujur harus saya katakan pertama kali dalam hidup saya mengunyah bubur kampiun yang paling enak khas Sumataera Barat, adalah disini di Rumah Makan Gumarang, masih segar dalam ingatan saya, waktu itu hari Juma'at kami melakukan pakansi ke Pasar Padang Panjang, setelah selesai sholat Juma'at saya dan teman pelajar yang lainnya singgah di RM Gumarang, dan kami memesan masing-masing seporsi Bubur kampiun yang rasanya sampai sekarang selalu saya rindukan.Pacu Kudo Padang Panjang
Adalah hari pakansi yang paling dirindukan ketika di lapangan Banca laweh, setiap hari ulang tahun kota padang panjang, dilapangan ini selalu diperingati berbagai kegiatan, salah satunya adalah pacuan kuda, alangkah ramainya pengunjung pada hari itu, orang-orang datang dari berbagai penjuru, dari Batipuh, Kayu Tanam, Alang Laweh, Singkarak, Batu Sangkar, mereka datang untuk menyaksikan tanah basah Padang Panjang di garuk kuku kuda perkasa yang beradu kencang satu sama lainnya, pasangan muda mudi membuat janji bertemu sambil menikmati pacuan kuda, para pedagang yang rerata "Amai-amai" (Nenek Tua) berdatangan dari berbagai pelosok kampung, ada yang menjual pisang kapik, lamang tapai, kue bika, pinukuik, lamang katan, dan berbagai macam jenis panganan yang serba nikmat dengan harga yang sangat terjangkau, itulah pacuan kuda di lapangan Chatib Sulaiman Banca Laweh Padang Panjang.
Pacu Kuda Di Banca Laweh
Pemandangan Di Lapangan Banca Laweh Padang Panjang
Sesungguhnya masih banyak tempat lain yang selalu saya rindukan di Padang Panjang, barangkali tidak bisa saya tuliskan satu persatu disini, dan yang tidak kalah penting dari kerinduan itu, adalah teman-teman sepantaran yang sama-sama menuntut ilmu di Padang Panjang, dalam pembahasan selanjutnya kita akan lihat berbagai lokasi lainnya yang menarik di kota kecintaan saya ini.
Bagi anda yang membutuhkan informasi lebih banyak tentang pemerintahan kota Padang Panjang, anda bisa mengunjungi situs resminya disini : Kota Madya Padang Panjang.
Pemandu Lokal

Tidak ada komentar:
Posting Komentar