Padang Panjang adalah kota yang membentuk saya menjadi anak remaja kampung rasa Minang Kabau, disana saya mengenal kata titih menitih, sahut menyahut, sambah menyambah, kato mandata, kato manurun, kato mandaki, bersilat lidah, menyayat tanpa melukai, mengiris tanpa putus, itulah Minang Kabau, yang sarat dengan bahasa isyarat halus dan kasarnya, saya yang tidak pernah mengenal bapak dan dunsanak kampung dan tidak begitu kental dengan adat Minang, maka di Padang Panjang segalanya berubah.
Kota dingin yang selalu saya rindukan, dan entah mengapa saya merasa diri saya selalu berasal dari kota itu padahal tidak satupun sanak saudara saya yang sekandung ada disitu, saya ingat pertama kali kaki saya menginjak tanah dingin Padang Panjang ketika pagi subuh buta, kabut tebal turun dari kaki gunung merapi, menghisap dada panas saya yang baru saja turun dari Bus antar kota antar dalam Porvinsi, seketika itu juga saya merasakan perasaan ganjil, kota ini adalah kota pelajar sejak zaman Zainuddin, Aziz dan Hayati masih dalam pikiran Buya Hamka.
Tiga tahun pertama saya di Padang Panjang tidak seorangpun orang yang lebih tua dari saya memanggil saya dengan kata "Waang", saya selalu dipanggil "Ananda" aduhai indah sekali, dengan segala keindahan dan kebaikan Kota itu, saya juga mengenalnya sebagai kota yang keras, terlebih ketika saya mengenal teman-teman yang lingkungan tempat tinggalnya di Pasar Raya Padang Panjang, parewa, tukang palak, tukang copet, tukang madat lem, saya juga mengenalnya dari kota ini.
Sekasar apapun kehidupan lain yang saya kenal dari kota itu, dia tetap memberikan saya keindahan lainnya, yakni anak-anak gadisnya yang lembut pemalu dan santun, meski tidak semuanya.
Gunung Merapi dan Singgalang, dua gunung yang berdiri kokoh seakan melindungi Padang Panjang dari berbagai pengaruh buruk kehidupan zaman.
KOTA PADANG PANJANG
Admin
Senin, 07 September 2026
Peta Wilayah
- Iklan / Banner 728x90 -
[ Tempatkan Kode Iklan / Banner Anda Di Sini ]
Seandainya hidup saya ini diibaratkan seperti anak penyu yang baru saja menetas dari dalam pasir yang hangat, menetas tanpa mengenal siapa induknya, lalu dengan nuraninya anak-anak penyu yang malang itu berenang menuju riak-riak ombak yang diharapkan akan mengantarkan dia dikedalaman laut yang hangat, maka Kota Padang Panjang adalah riak ombak pertama saya setelah saya keluar dari timbunan pasir yang hangat itu.
Artikel Terkait

Tidak ada komentar:
Posting Komentar